Bentuk dan Strategi Pembinaan Warga Jemaat Dewasa
DOI:
https://doi.org/10.63830/tzbpj139Keywords:
Bentuk, strategi, pembinaan, jemaat dewasaAbstract
Abstract: The church has its duty and calling in carrying out the development of congregation
members; in this case, it is more focused on adult members. The goal is for all adult congregation
members to take part in building the body of Christ. Through coaching, it is hoped that the mature
congregation will know and grow in the knowledge of Christ. In coaching, there are often obstacles,
but that is not an excuse for the church or church advisors not to carry out coaching. Therefore, the
purpose of this writing is to provide an understanding that a mentor is a person who truly believes
(has been born again) so that, as a mentor, he has the burden to carry out his calling in fulfilling the
Great Commission. Using a descriptive qualitative method, it can be concluded that, for this reason,
church coaches are expected to know the forms and strategies for carrying out coaching. The goal is
to make coaching more creative and effective to achieve the coaching goals. In addition, if the coach
can use the coaching strategy properly and is carried out responsibly, many adult congregation
members will certainly be interested in participating in each coaching program.
Keywords: form and strategy, development, adult congregation
Abstrak: Gereja memiliki tugas dan panggilannya dalam melaksanakan pembinaan warga jemaat,
dalam hal ini lebih difokuskan pada warga jemaat usia dewasa. Tujuannya adalah agar semua warga
jemaat dewasa mengambil bagian dalam pembangunan tubuh Kristus. Melalui pembinaan
diharapkan jemaat dewasa lebih mengenal dan bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. Dalam
pembinaan sering ditemui kendala-kendala, tetapi itu bukanlah menjadi alasan untuk gereja atau
pembina gereja tidak melaksanakan pembinaan. Oelh karena itu tujuan dari penulisan ini dapat
memberikan pemahan bahwa seorang pembina adalah orang yang sungguh-sungguh beriman
(sudah lahir baru), sehingga sebagai pembina ia memiliki beban untuk melakukan panggilannya
dalam menggenapkan Amanat Agung. Mengunakan metode kualitatif deskritif dapat disimpulkan
bahwa, untuk itu pembina gereja diharapkan mengetahui bentuk dan strategi dalam melaksanakan
pembinaan. Tujuannya, agar pembinaan lebih kreatif dan efektif, sehingga tujuan dari pembinaan
dapat tercapai. Selain itu jika pembina dapat menggunakan strategi pembinaan dengan baik dan
dilakukan secara bertanggung jawab maka dipastikan banyak warga jemaat dewasa yang tertarik
untuk mengikuti setiap program pembinaan.
Kata kunci: bentuk dan strategi, pembinaan, jemaat dewasa





