Studi Teologi Pernikahan dalam Kitab Hosea: Refleksi bagi Pernikahan Kristen Saat Ini

Authors

  • Fida Tronika Matang Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup, Karanganyar Author
  • Sugeng Surjana Adi Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup, Karanganyar Author

DOI:

https://doi.org/10.63830/70vmqf82

Keywords:

Kitab Hosea, Pernikahan, Pernikahan Kristen

Abstract

Abstract: A solid marriage is built on the foundation of mutual trust, love and fidelity; therefore,
what God has joined together, man must not separate (Matthew 19:6). This means that for believers,
marriage is something holy because God created marriage and binds husband and wife through
sacred promises in marriage before God and His people. The relationship between husband and wife
describes the relationship between God and man. Hosea was a prophet sent by God to convey God's
Word to the Israelites experiencing a moral decline. God told Hosea to marry a harlot (Hosea 1:2),
because Hosea's marriage would be a valuable lesson for the Israelites who were unfaithful. Hosea
was the first prophet to compare God's union with the Israelites based on the covenant made at
Mount Sinai, with marriage or marriage. Marriage is a binding agreement (covenant) between a man
and a woman, a marriage vow is not just a contract, which means that a marriage promise that has
been made before God and His church cannot be canceled by humans, there is no reason to divorce
even if there is a reason whatever. Three (3) parties hold the promise in marriage, including husband,
wife and God. Husband and wife must have the commitment to maintain and maintain the
household ark that has been built on the foundation of Christ in a holy marriage bond so that they
can avoid divorce.
Keywords: book of Hosea, marriage, Christian marriage
Abstrak: Pernikahan yang kokoh dibangun di atas dasar saling percaya, mengasihi dan kesetiaan,
karena itu, apa yang dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia (Matius 19:6).
Yang berarti bahwa bagi orang percaya, pernikahan adalah sesuatu yang kudus sebab Tuhan yang
menciptakan pernikahan dan mengikat suami istri melalui janji suci dalam pernikahan di hadapan
Tuhan dan umat-Nya. Hubungan suami istri menggambarkan hubungan antara Allah dan manusia.
Hosea merupakan seorang nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan Firman Allah kepada
Bangsa Israel yang mengalami kemerosotan moral. Allah berbicara kepada Hosea untuk pergi,
mengawini perempuan sundal (Hosea 1:2), sebab pernikahan Hosea akan menjadi pelajaran yang
berharga bagi bangsa Israel yang tidak setia. Hosea merupakan nabi pertama yang membandingkan
persatuan Allah dengan bangsa Israel berdasarkan perjanjian yang diikat digunung Sinai, dengan
pernikahan atau perkawinan. Pernikahan merupakan perjanjian yang mengikat (covenant) antara
laki-laki dan perempuan, janji pernikahan bukan sekedar kontrak, yang artinya bahwa janji
pernikahan yang telah diucap dihadapan Allah dan jemaat-Nya, tidak dapat dibatalkan oleh
manusia, tidak ada alasan untuk bercerai walau dengan alasan apa pun. Yang memegang janji dalam
pernikahan ada tiga (3) pihak, diantaranya adalah suami, istri dan Tuhan. Pasangan suami dan istri
harus memiliki komitmen untuk memelihara dan menjaga bahtera rumah tangga yang telah
dibangun diatas dasar Kristus dalam satu ikatan pernikahan kudus agar dapat terhindar dari
perceraian.
Kata kunci: kitab Hosea, pernikahan, pernikahan Kristen

Downloads

Published

2025-03-26

Issue

Section

Articles

How to Cite

Studi Teologi Pernikahan dalam Kitab Hosea: Refleksi bagi Pernikahan Kristen Saat Ini. (2025). ICHTUS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani, 3(2), 97-105. https://doi.org/10.63830/70vmqf82